Waktu itu Ramadhan, sekitar bulan agustus dua tahun lalu. Dinas pagi yang menakjubkan. Hari kamis di Saudi sama seperti hari sabtu di Indonesia. Dokter yang visit cuma satu. Dokter Jawaid Asraf, orang India. Visit dengan dia asyik. Selain baik, dia tidak suka tanya yang aneh-aneh, bukan tukang suruh-suruh bersuara besar seperti dokter lain. Heran, beberapa dari mereka mungkin masih membawa kebiasaan di negeri asalnya: nyuruh-nyuruh perawat. Memangnya kami pesuruh? Kalau dibalik, kami yang “menyuruh mereka” untuk meng-input semua data ke komputer, mengisi lengkap semua lembar order sekaligus lembar visit-nya, re-copy daftar obat...mereka juga mengeluh dan marah. Padahal kan itu sudah bagian tugas. Heran. Beberapa dari mereka, termasuk perawat juga sih sebenarnya, mengeluh akan tugasnya. Heran, bukannya sudah pada tahu. Yang lebih aneh lagi, kalau mereka berteriak dan marah. Memangnya yang jadi sasaran kemarahan itu adalah pembuat aturan itu ? Prihatin. Marahnya salah alamat.
Jam tiga sore, menunggu saat-saat endorsement. Lagi tiba-tiba gelap.
